Sunday, 31 May 2026

Puncta 25 Mei 2026
PW. St. Perawan Maria Bunda Gereja
Yohanes 19:25-34

Induk Kera

KETIKA saya bertugas di Nanga Tayap, Ketapang, ada seorang bapak yang hobynya berburu ke hutan. 

Dia bercerita pernah menembak seekor induk Lutung atau kera di hutan. Binatang itu jatuh ke tanah dan meringis menahan sakit. Ia masih menggendong anaknya.

Ketika bapak itu menghampirinya, induk kera itu sambil menangis – terlihat air mata menetes dari kedua kelopak matanya – mengulurkan tangan dan menyerahkan anaknya kepada si penembak. 

Seperti seorang ibu yang memasrahkan nasib anaknya kepada si pembunuhnya, induk itu terus mati lemas kehabisan darah.

Bapak itu menangis iba dan haru. Ia menerima anak kera itu dan dibawa ke rumahnya. 

Ia memelihara anak kera itu sampai dewasa dan kemudian melepasnya ke habitat asalnya. Sejak saat itu bapak ini tidak pernah mau lagi berburu ke hutan.

Sebelum Yesus wafat di salib, Ia melihat Maria, Ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" 

Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Yohanes menjadi wakil dari Gereja yang telah lahir pada hari raya Pentakosta. Oleh Yesus Gereja diserahkan kepada Maria Ibu-Nya, agar Maria menerima kita sebagai anggota Gereja untuk dibimbingnya.

Kita yang diwakili oleh Yohanes diberi seorang Ibu yang senantiasa mendampingi dan merawat Gereja-Nya. Maria senantiasa berjalan bersama Gereja dan menjadi ibu teladan yang menuntun kita kepada Yesus.

Setelah kemarin kita memperingati hari lahirnya Gereja, sekarang kita memperingati Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja, yaitu kita semua yang percaya kepada Kristus. Oleh Kristus kita diserahkan kepada perlindungan Maria.

Melalui iman, kita percaya bahwa Maria adalah Bunda kita semua yang di bawah salib-Nya diwakili oleh Rasul Yohanes. 

Kita percaya pada Maria yang selalu menolong agar kita sampai kepada Yesus Puteranya.

Sebagaimana Maria yang setia, rendah hati, ibu yang berbelas kasih dan tekun sebagai abdi Allah, kita pun berharap bisa setia dan meneladani Maria. 

Sepercik pantun buat anda:
Banyak orang kenal si Veronika,
Veronika yang om strom pu ana.
Santa Maria adalah Bunda Gereja,
Oleh kasihnya kita semua dipelihara.

Wonogiri, doakan kami ya Bunda
Rm. A.Joko Purwanto, Pr


Sunday, 24 May 2026

Puncta 24 Mei 2026

HR.Pentakosta
Yohanes 20:19-23

Katholieke Jongenlingen Bond

SUMPAH PEMUDA adalah tonggak sejarah perjuangan kaum muda untuk membangun nasionalisme. Rapat pertama dilakukan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond di kompleks yang sekarang adalah Gereja Katedral Jakarta. 

Gedung lama sudah dipugar kini menjadi Graha Pemuda untuk mengenang peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Di tempat itulah dirumuskan semangat kebangsaan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito dari Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia.

Dengan ikhrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia, maka disatukanlah aneka suku, agama, bahasa yang beraneka ragam menjadi satu Indonesia. 

Kita memiliki 1.340 suku bangsa. Ada 718 bahasa daerah yang hidup di Nusantara yang kaya raya ini.

Dengan Bahasa Indonesia, semua orang dari berbagai suku bangsa bisa berkomunikasi. Dengan Bahasa Indonesia semua orang bisa saling mengenal dan bersatu padu. 

Sumpah Pemuda bisa dikatakan sebagai Hari Pentakostanya Bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah momen dimana kaum muda dibimbing oleh Roh Kudus.

Hari ini umat Katolik merayakan Hari Pentakosta, saat dimana Roh Kudus diturunkan untuk Gereja. 

Dalam Kisah Para Rasul, diceritakan bagaimana orang-orang dari berbagai bangsa bersatu di Yerusalem dan mereka mengerti kesaksian para rasul. 

Para rasul yang awalnya takut, tertutup rapat di dalam kamar, bersembunyi dalam kecemasan, putus asa dan bingung, kini karena kuasa Roh Kudus, mereka bersaksi dengan berani dan berpidato kepada banyak orang, memberi kesaksian tentang Yesus Sang Mesias.

Orang-orang dari orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.

Pesan dari peristiwa ini adalah karunia Roh Kudus diberikan kepada kita agar berani bersaksi. Roh Kudus akan membimbing, memimpin dan menuntun kepada kebenaran. 

Seperti peristiwa Sumpah Pemuda, Pentakosta membawa semangat persatuan dalam keberagaman.

Menghidupi semangat Sumpah Pemuda, sebenarnya kita juga menghidupi semangat Pentakosta. Mari kita kembangkan persatuan dan kesatuan baik sebagai warga gereja, maupun juga warga bangsa.

Sepercik pantun buat anda:
Kita berikhrar satu nusa satu bangsa,
Bahasa persatuan adalah Indonesia.
Roh Kudus turun di hari Pentakosta,
Menuntun kita menebarkan cinta.

Wonogiri, selamat menerima Roh Kudus
Rm. A.Joko Purwanto, Pr